Dear readers,
Pertama-tama, saya minta maaf jika belakangan, konten tulisan-tulisan saya di sini lebih bertemakan religius dibandingkan sebelumnya. Sebenarnya, saya sudah memiliki wadah menulis hal-hal yang sifatnya religius di tumblr, namun karena saya adalah salah satu pengguna tumblr generasi pertama di Indonesia (ini kok jadi kaya nyombong, sih) jadi baru saya sadari kalau pengikut saya di tumblr jauh lebih banyak dibandingkan pengikut saya di blog ini :’) Lagipula, saya sudah menseting blog ini agar tidak terlacak di laman gugel sehingga saya merasa lebih aman menulis pikiran dan curahan hati di sini.
Baiklah, saya cukupkan saja pembukaannya sebelum terlanjur melantur lebih panjang.
Kali ini, saya ingin menulis tentang seorang Imam yang sangat saya kagumi. Bagi pembaca yang sudah mengenal diri saya secara personal, atau setidaknya sudah membaca tulisan saya sebelum ini, pasti sudah mengetahui kalau saya sangat mengagumi Imam Al Ghazali. Singkatnya, sebagai muslim yang berusaha untuk taat, saya mengenal ada empat imam yang mazhabnya diikuti oleh sebagian besar masyarakat muslim di dunia. Sebenarnya ada lebih dari empat Imam, namun seiring dengan berkembangnya zaman, pengikut Imam lainnya sudah habis regenerasinya hingga menyisakan hanya empat Imam dengan pengikut terbesar. Keempat Imam tersebut ialah Imam Hanafi, Imam Maliki, dan Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali.
Lalu di mana letak Iman Al Ghazali?
Tenang, Imam Ghazali bukanlah Imam yang mahzabnya harus diikuti oleh masyarakat muslim. Dia sendiri tidak pernah menghendaki itu. Dengan tegas beliau mengatakan jika ia adalah pembela nomor satu Imam Syafi’i. Jadi, apapun yang ia tulis, tidak lain dan tidak bukan untuk mendukung apa yang Imam Syafi’i yakini. Di dalam tulisan ini, saya hanya akan menuliskan awal mula perkenalan saya dengan sang Imam dan bagaimana saya mulai mengagumi beliau.
Pada suatu hari di bulan Ramadhan, Ayah saya membacakan saya salah satu kitab yang ditulis oleh Ghazali. Lembaran kitab itu berwarna kuning, berbahasa arab dan berhuruf gundul. Bab yang ia bacakan ialah bab mengenai puasa. Karena mendengarnya sangat menarik, isi nya tidak serta-merta sama seperti ceramah tentang Puasa pada umumnya ketika menghadiri shalat tarawih berjamaah, saya penasaran dengan bukunya dan ingin sekali mengetahui isinya lebih dalam. Singkat cerita saya berhasil mendapatkan bukunya dengan cuma-cuma. Berikut ini ialah ulasan singkat mengenai kekaguman saya terhadap buku beliau yang judulnya, Ihya Ulumuddin, atau Al – Ihya. Awalnya, Ghazali menulis buku ini lantaran sudah terlalu banyak aliran islam di masanya karena adanya pengaruh-pengaruh pemikiran filsafat baru, Ihya Ulumuddin artinya ialah The revival of religious science. Al Ghazali ingin agar agama islam kembali pada asalnya, dalam hal ini, berpatokan pada mazhab Fiqh yang diikutinya.
Harus saya akui kalau buku ini belum sepenuhnya saya habiskan sehingga yang saya nilai di sini lebih bagaimana cara penulisan Al Ghazali ketika menulis kitab ini. Lagipula, jika saya harus mengulas dari segi konten, itu sangatlah sulit. Buku Ihya Ulumuddin sendiri menjadi salah satu kitab tertinggi yang dipelajari di pesantren-pesantren salaf sehingga ilmu saya jelas gak nyampe kalo harus mekso mengulas kontennya.
1. Kontennya sistematis
Al Ihya terdiri dari empat jilid. Setiap jilid masing-masing terdapat sepuluh Bab. Setiap Bab disusun berdasarkan logika yang sistematis, logika ilmu pengetahuan. Tidak aneh jika buku ini sering dijadikan acuan serta sasaran kritik dan penelitian oleh para ilmuan muslim. Berikut ini saya tampilkan konten dari tiap buku Al Ihya.
Dari konten yang dipaparkan di dalam setiap Bab, menurut saya cukup berurut, apalagi jika diingat pada zamannya kaidah ilmu pengetahuan tidak seberkembang masa sekarang. Bagaimana buku Al-Ihya diawali dengan Bab ilmu serta diakhiri dengan Bab menyoal kematian. Sejauh ini, saya hanya membaca Buku 1, dan itu pun tidak berurut, melainkan bergantung pada mood, jelas jika apa yang saya dapatkan dari membaca hanya sebatas sebagai pengetahuan saya dan bukan sebagai dasar saya untuk memaksa orang untuk satu pemikiran dengan saya.
2. Penulisannya pun sangat sistematis
Bagi beberapa ahli agama modern, tidak jarang yang mengkritik bahwa Buku Al Ihya sangatlah lemah karena sering memasukkan hadist-hadist yang tingkatannya dhaif, bahkan beberapa dibilang palsu.
Dhaif itu urusan para Ahli Ilmu Hadist. Di sini saya hanya ingin menunjukkan bagaimana beliau menuliskan pemikirannya.
Di setiap sub bab yang beliau tulis, akan diawali oleh ayat-ayat Quran yang membahas sub bab tersebut, lalu diikuti dengan seluruh hadist sahih yang membahas mengenai sub bab, hadist di bawah sahih, hingga yang dianggap dhaif. Tidak ada satupun pendapat pribadi yang sang Imam masukan. Berikut ini saya tampilkan tujuh halaman yang membahas mengenai Pentingnya Ilmu (Excellence of Learning).
Membaca buku Al Ihya memang bagus sebagai pengetahuan, tetapi saya tidak berani memaparkan isi yang telah saya baca karena khawatir apa yang saya pahami dari setelah membaca buku ini rupanya kurang tepat. Bahkan di pesantren yang jelas-jelas membacanya pun dituntun oleh guru pun, masih perlu beberapa rangkaian tes untuk menilai apakah mereka yang telah diajari isinya ini paham betul, atau setengah paham. Ini untuk menghindari kesalahan penyampaian ilmu ke orang berikutnya.
Terakhir, ayah saya selalu mewanti-mewanti jika ingin belajar agama haruslah berhati-hati dan harus dengan guru. Ibaratkan dengan ilmu Hadist, belajar Agama pun perlu sanad. Kita berguru dengan Ustadz A, karena Ustadz A jelas berguru dengan Ustadz B, begitu seterusnya hingga sampai ke Nabi Muhammad SAW. Diskusi soal agama tentu dibolehkan, namun ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan yang harus sesuai agama atau tidak, ikutilah ulama yang jelas-jelas mengabadikan hidupnya untuk murni belajar agama. Sebisa mungkin kita hampir tidak bisa berpatokan pada akal serta apa yang kita baca karena kita hanyalah orang awam yang mana belajar agama bukan menjadi hal utama di dalam hidup kita. Untuk itulah ada istilah taqlid, taqlid pada ulama-ulama yang sudah ber-ijtihad. Memilih ulama pun perlu berhati-hati, telusuri siapa guru dari ulama yang ingin kita ikuti. Jika tidak jelas sanadnya, maka jangan dijadikan patokan yang mutlak.
Leave a Reply